Tips Hadapi Pengendara Nakal yang Suka Serobot Jalur

 

SEMARANG – Pernahkah menjumpai pengendara yang tiba–tiba berubah jalur dari kiri ke kanan karena terhalang kendaraan yang melambat atau berhenti di depannya? Kondisi seperti ini kerap dijumpai di jalan raya yang ramai dan padat kendaraan seperti pasar, supermarket, pabrik, perkantoran hingga area sekolah.

Dalam keadaan ini, kemungkinan besar yang terjadi adalah pengguna jalur kanan akan terganggu dan memperingatkan pengendara yang memotong jalur dengan menggunakan klakson, mengerem mendadak, atau kemungkinan terburuk yang dapat terjadi adalah senggolan atau tabrakan beruntun karena mengerem mendadak. Pertanyaannya, bagaimana yang seharusnya kita lakukan jika menjumpai kondisi seperti itu?

Safety Riding Supervisor Astra Motor Jateng Oke Desiyanto, memaparkan 3 hal yang seharusnya diperhatikan dan dilakukan oleh pemakai lalu lintas, yaitu:

1. Pemakai lalu lintas harus menaati pasal yang berlaku yaitu UU Nomor 22 Tahun 2009 yaitu sesuai dengan Pasal 116 ayat 2: Pengemudi harus memperlambat kendaraannya jika:

a. akan melewati mendaraan bermotor umum yang sedang menurunkan dan menaikkan penumpang;

b. akan melewati kendaraan tidak bermotor yang ditarik oleh hewan, hewan yang ditunggangi, atau hewan yang digiring;

c. cuaca hujan dan/atau genangan air;

d. memasuki pusat kegiatan masyarakat yang belum dinyatakan dengan rambu lalu lintas;

e. mendekati persimpangan atau perlintasan sebidang kereta api; dan/atau

f. melihat dan mengetahui ada pejalan kaki yang akan menyeberang.

Pengguna jalan juga wajib memerhatikan Pasal 117 yaitu: Pengemudi yang akan memperlambat kendaraannya harus mengamati situasi lalu lintas di samping dan di belakang kendaraan dengan cara yang tidak membahayakan kendaraan lain.

2. Menjunjung etika berlalu lintas yang sopan dalam menggunakan jalan umum. Artinya, tidak semena-mena mengubah arah kendaraan tanpa memperhatikan sekitar yang bisa membahayakan pengguna lain.

“Harus digarisbawahi bahwa prinsip dalam mengubah arah di jalan raya adalah meminta jalur orang lain dalam berlalu lintas, jadi kita harus meminta persetujuan dari pengguna jalan lain, tidak langsung menyerobot sehingga menyebabkan kecelakaan,“ ujar Oke.

3. Menerapkan strategi prediksi bahaya yaitu dengan menjaga jarak aman dengan kendaraan depan. Jarak aman tersebut merupakan jarak yang sebaiknya diberikan untuk ruang pengereman. Sebaiknya, pengendara tidak memiliki selisih kecepatan lebih besar dari 10 km/jam dengan kendaraan sekitar yang bergerak searah.

Kesimpulannya, menurut undang-undang pengendara jalan yang terhalang karena kendaraan di depannya melambat atau berhenti, tidak boleh langsung menghindar. Namun, harus melambat dan memastikan kondisi sekelilingnya aman untuk menyalip. Selain itu, etika dan strategi berlalu lintas harus diaplikasikan.

Dengan hal tersebut, jelas bahwa pergerakan kendaraan selama berlalu lintas sudah diatur dalam undang–undang. Tentunya etika dan strategi selama menggunakan lalu lintas akan membuat berkendara akan lebih aman dan nyaman.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *